Laman

Selasa, 02 April 2013

Bimbingan Skripsi Ku Part I

Ngga terasa uda stambuk tua yaa.. Aaaaaaaaaaaaaaaaa.....
Saat nya stress, makan ngga teringat lagi yang berdampak pada pengurangan lemak dalam tubuh *asyi~k*
Aku baru aja mendapatkan Dosen Pembimbing alias Doping salah satu idola sasjep, yaitu : Eman Sensei. Beliau adalah satu-satunya dosen sastra di jurusan kami. Kebetulan aku ambil pilihan sastra juga..

Katanya sih, doping itu penentu lancar ngga nya skripsi kita. Oow.. Aku yang lagi malas-malasan pun tergerak untuk menyelesaikan proposal dengan sigap, cepat dan asal jadi cekatan.
Selama liburan di Aceh dulu, aku dan Miita uda sibuk banget mau janjian nyerahin proposal bareng. Berharap dapet doping yang sama. :p

Syukur lah akhirnya impian itu terkabul juga... ^^
Aku yang ditolak mentah-mentah oleh Amin Sensei, langsung menghadap Eman Sensei yang juga berprofesi sebagai Ketua Jurusan. Saat itu Miita uda nyelonong juga, dan jadi lah kami berdua dibimbing olehnya :D

"Tapi kalian janji yaa harus memaklumi keadaan saya. Saya banyak jadi pembimbing juga," ujarnya.

Kami serempak mengangguk dan berkata dengan berbinar-binar, "Iya, Sensei."

Aku bahkan mencolek-colek lengan panjang Miita saking bahagianya :D


Tetapi.....
Sepertinya kebahagiaan tidak berlangsung lama menghinggapi kami. Setelah sebulan berhibernasi, kami pun berinisiatif pecah telor. Maksud nya bimbingan skripsi untuk yang pertama kali nya. Pertamax, gan!

Lama menunggu, sekitar 1 jam lebih, akhirnya aku duluan yang bimbingan skripsi. Miita nunggu di belakang aku. Tentunya dengan muka apatisnya.

Di awal proposal ku aja uda ada salahnya. -.-
Aku kurang banyak memasukkan masalah dalam hidup latar belakang dan rumusan masalah di penelitian ku. Jadi harus diulang. Aku ditanya-tanya oleh Eman Sensei mengenai hal itu. Karena lupa, *proposal uda jamuran* aku karang-karang aja. Eh dia percaya aja tuh :p

Awal kesialan bermula dari sini..
Miita yang uda capek nunggu, harus menelan pahit kenyataan yang ada..
Eman Sensei ngga bisa membimbing dia!

"Aduh gimana yaa, saya lagi pusing. Tadi abis periksa draft. Ini mau makan siang trus minum obat," kata Eman Sensei.

Miita terdiam dan hanya bisa mengangguk.
Padahal aku tau dia pengen ngucapin "bangke". Wkwkwk...


Senin semalem kami juga uda cariin Eman Sensei. Tapi sepertinya beliau menghindari kami. Hahaha..
Tanya Bang Joko, katanya makan siang. Tapi kok uda 3 jam makan siang terus? Makan apa itu? -.-

Kami depresi berdua dan kembali pulang..


Hari ini jauh lebih sial dari yang kami kira.
Hari di mana stambuk tua berleha-leha dan menyalurkan hasrat tidurnya yang selama ini dirampas selama stambuk muda.
Miita sms aku, minta jemput dengan manja. -.-

Dasar anak Ummi!

Nyampe di kampus, kebetulan ketemu Nisha. Dia mau nyerahin tugas terjemahan untuk besok ke Yuddi Sensei.
Jadi lah kami berpisah dulu, aku dan Miita ke kajur sedangkan Nisha ke kantor Yuddi Sensei.

Dan bagai kilat petir geledek menggelegar di siang hari..

"Eman Sensei ngga dateng, dia sakit," kata temen-temen kami yang uda jamuran nunggu di situ.

Huwaaaaaaa......

Mau guling-guling di becekan aja rasa nya.
Dan seketika Miita mendapat ilham, "Kenapa yaa tiap x aku minta jemput kau akhirnya kek gini? Aku selalu gagal mendapatkan cinta Pak Eman. Gara-gara ngga sedekah nih ama tukang becak!" keluhnya.

Hihihi...
Uda tobat kek nya tuh anak mengkek-mengkek lagi.

Nisha yang tau kejadian naas kami sukses tertawa dengan keras.
Jadi ketimbang dongkol yang tak terkira, kami habiskan aja lah makanan waktu di kantin sastra... #jleb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar